Mari Mulai Dari Diri Sendiri
Matahari yang tepat berada diatas ubun-ubun, menebarkan hawa panas tanpa tedeng aling-aling.
Keringat mulai menghiasi kening sampai ujung hidungku, membuat rambut dibalik kerudungku seolah kuyup.
Suara klakson yang ditekan penuh amarah menambah hiruk pikuk siang itu. Emosi seolah berlomba-lomba mengangkasa.
Bunyi peluit petugas sangat lamat terdengar diantara hardikan dan umpatan yang kerap terlontar.
Beberapa anggota dinas perhubungan yang bertugas siang itu sungguh kewalahan menghadapi antrian angkutan kota, mobil pribadi, sepeda motor, becak dan bahkan pejalan kaki.
Kebanyakan orang berebut mencari jalan sendiri, menganulir para petugas yang susah payah membantu mengatur untuk melancarkan lalu lintas, keegoisan seperti itulah yang justru membuat antrian kendaraan semakin panjang dan kemacetan semakin parah.
Sungguh siang yang tidak nyaman !!!!
Jalur ini memang terkenal dengan kemacetannya. Entah pagi, siang, sore bahkan malam haripun kemacetan itu seolah sudah mendarah daging di area tersebut.
Perlahan kuparkir sepeda motor nyaris naik ke trotoar. Siang itu aku mengantar DD meliput carut marut lalu lintas disepanjang jalur citeureup - Sentul - Babakan Madang.
Berdua kami menghampiri seorang petugas Dishub yang duduk diatas motornya dipinggir jalan.
Wajah lelahnya dibungkus kulit yang legam bermandi peluh.
"Kemacetan ini disebabkan tidak adanya terminal sehingga semua pengendara mobil dari arah sentul memutar balik kendaraannya di jalur utama. Jumlah angkot disini kurang lebih 150 buah, karuan saja jalanan menjadi macet" jelas seorang petugas Dishub.
"Kalau begitu, berarti pembangunan sebuah terminal merupakan satu-satunya cara menanggulangi kemacetan, apakah sudah ada rencana dari pemda setempat untuk membangun sebuah terminal ?" tanyaku
"Bukan satu-satunya cara mbak, tetapi salah satu cara. Pemda setempat memang sudah merencanakan pembangunan terminal pada tahun 2006 mendatang" jawabnya
"Tahun 2006 ? masih lama sekali ya mas, untuk sementara ini apakah ada cara lain yang diambil dishub ?" kini giliran DD yang bertanya
"Cara itu sudah diupayakan sejak lama. Kami membuat jalur satu arah memutari BTN, tapi sayang para sopir cuma mentaati peraturan tersebut hanya sehari dua hari saja" katanya menyerupai sebuah keluhan.
Masih banyak lagi yang kami tanyakan siang itu. Tapi satu yang menarik menurut aku adalah, penyebab kemacetan itu bukan hanya kendaraan yang diputar balik dijalan utama, tetapi juga ketidakdisiplinan para pengemudi angkot menaikturunkan penumpang ditengah jalan.
Aku lihat tiga bahkan empat kendaraan yang berjejer ketengah dari sebelah kanan jalan. Hal itu menyebabkan jalanan yang bisa dipakai untuk lalu lintas hanya satu jalur saja.
"Kalau saya ngetem dipinggir mah atuh nggak kebagian penumpang mbak, orang yang lain semuanya pada ngetem ditengah" kata Usman seorang pengemudi asal Sanja yang sudah menekuni profesinya hampir lima tahun.
Angkot yang dipakainya bukanlah milik pribadi, melainkan angkot setoran. Tentu dia harus bekerja keras, bersaing dengan pengemudi lain supaya bisa memenuhi setoran angkot sebanyak lima puluh ribu rupiah setiap hari. Belum lagi mencari kelebihannya untuk menghidupi anak isterinya.
Tetapi selama setiap orang mempunyai prinsip yang sama, aku rasa masalah itu layaknya menjadi lingkaran setan yang tak berujung. Dengan begitu kelancaran lalu lintas praktis menjadi hal yang mustahil.
Harus timbul kesadaran dari diri sendiri untuk mengubahnya, toh ketika lalu lintas lancar, para pengemudi tidak perlu mengantri sampai satu jam atau bahkan lebih untuk bisa meluncur kembali kejalan yang lengang, kenyamanan bisa dihadirkan, dan insya Allah rejekipun ikut mengalir lancar.
Kebaikan memang harus dimulai oleh diri kita sendiri, dari hal-hal terkecil dan tidak boleh ditunda-tunda.
Aku jadi teringat tausiyah AA Gym tentan 3M :
- Mulai dari diri sendiri
- Mulai dari hal yang terkecil
- Mulai hari ini
Sungguh hal yang sederhana kelihatannya, tetapi diperlukan kemauan dan keseriusan untuk memulainya.
Keringat mulai menghiasi kening sampai ujung hidungku, membuat rambut dibalik kerudungku seolah kuyup.
Suara klakson yang ditekan penuh amarah menambah hiruk pikuk siang itu. Emosi seolah berlomba-lomba mengangkasa.
Bunyi peluit petugas sangat lamat terdengar diantara hardikan dan umpatan yang kerap terlontar.
Beberapa anggota dinas perhubungan yang bertugas siang itu sungguh kewalahan menghadapi antrian angkutan kota, mobil pribadi, sepeda motor, becak dan bahkan pejalan kaki.
Kebanyakan orang berebut mencari jalan sendiri, menganulir para petugas yang susah payah membantu mengatur untuk melancarkan lalu lintas, keegoisan seperti itulah yang justru membuat antrian kendaraan semakin panjang dan kemacetan semakin parah.
Sungguh siang yang tidak nyaman !!!!
Jalur ini memang terkenal dengan kemacetannya. Entah pagi, siang, sore bahkan malam haripun kemacetan itu seolah sudah mendarah daging di area tersebut.
Perlahan kuparkir sepeda motor nyaris naik ke trotoar. Siang itu aku mengantar DD meliput carut marut lalu lintas disepanjang jalur citeureup - Sentul - Babakan Madang.
Berdua kami menghampiri seorang petugas Dishub yang duduk diatas motornya dipinggir jalan.
Wajah lelahnya dibungkus kulit yang legam bermandi peluh.
"Kemacetan ini disebabkan tidak adanya terminal sehingga semua pengendara mobil dari arah sentul memutar balik kendaraannya di jalur utama. Jumlah angkot disini kurang lebih 150 buah, karuan saja jalanan menjadi macet" jelas seorang petugas Dishub.
"Kalau begitu, berarti pembangunan sebuah terminal merupakan satu-satunya cara menanggulangi kemacetan, apakah sudah ada rencana dari pemda setempat untuk membangun sebuah terminal ?" tanyaku
"Bukan satu-satunya cara mbak, tetapi salah satu cara. Pemda setempat memang sudah merencanakan pembangunan terminal pada tahun 2006 mendatang" jawabnya
"Tahun 2006 ? masih lama sekali ya mas, untuk sementara ini apakah ada cara lain yang diambil dishub ?" kini giliran DD yang bertanya
"Cara itu sudah diupayakan sejak lama. Kami membuat jalur satu arah memutari BTN, tapi sayang para sopir cuma mentaati peraturan tersebut hanya sehari dua hari saja" katanya menyerupai sebuah keluhan.
Masih banyak lagi yang kami tanyakan siang itu. Tapi satu yang menarik menurut aku adalah, penyebab kemacetan itu bukan hanya kendaraan yang diputar balik dijalan utama, tetapi juga ketidakdisiplinan para pengemudi angkot menaikturunkan penumpang ditengah jalan.
Aku lihat tiga bahkan empat kendaraan yang berjejer ketengah dari sebelah kanan jalan. Hal itu menyebabkan jalanan yang bisa dipakai untuk lalu lintas hanya satu jalur saja.
"Kalau saya ngetem dipinggir mah atuh nggak kebagian penumpang mbak, orang yang lain semuanya pada ngetem ditengah" kata Usman seorang pengemudi asal Sanja yang sudah menekuni profesinya hampir lima tahun.
Angkot yang dipakainya bukanlah milik pribadi, melainkan angkot setoran. Tentu dia harus bekerja keras, bersaing dengan pengemudi lain supaya bisa memenuhi setoran angkot sebanyak lima puluh ribu rupiah setiap hari. Belum lagi mencari kelebihannya untuk menghidupi anak isterinya.
Tetapi selama setiap orang mempunyai prinsip yang sama, aku rasa masalah itu layaknya menjadi lingkaran setan yang tak berujung. Dengan begitu kelancaran lalu lintas praktis menjadi hal yang mustahil.
Harus timbul kesadaran dari diri sendiri untuk mengubahnya, toh ketika lalu lintas lancar, para pengemudi tidak perlu mengantri sampai satu jam atau bahkan lebih untuk bisa meluncur kembali kejalan yang lengang, kenyamanan bisa dihadirkan, dan insya Allah rejekipun ikut mengalir lancar.
Kebaikan memang harus dimulai oleh diri kita sendiri, dari hal-hal terkecil dan tidak boleh ditunda-tunda.
Aku jadi teringat tausiyah AA Gym tentan 3M :
- Mulai dari diri sendiri
- Mulai dari hal yang terkecil
- Mulai hari ini
Sungguh hal yang sederhana kelihatannya, tetapi diperlukan kemauan dan keseriusan untuk memulainya.



0 Comments:
Post a Comment
<< Home