Cerita Yang Belum Usai
Minggu, 31 Juli 2005
Hari ini indah walau tak cerah. Mendung menggelayuti cakrawala sedari pagi. Tetapi apalah artinya cuaca mendung kalau hati terang benderang, jiwa menghangat karena semangat .......
Hari ini pasti bakal jadi hari yang seru !!!! betapa tidak, janji bertemu beberapa kawan yang sudah lama tak berjumpa, plus ketemu Opep pula. Pastilah bertabur tawa seperti biasanya.
Tak jelas mau kumpul jam berapa, tapi pagi-pagi aku sudah berkemas. Tanpa merasa perlu sarapan akhirnya berangkat tepat jam setengah delapan, setelah sebelumnya memberitahu Uni Evi untuk bertemu disuatu tempat di Bogor.
Meluncur dengan sepeda motor, merasakan kesejukan pagi tanpa polusi dan kemacetan seperti biasanya. Formasipun belum berubah, DD di depan aku membonceng. Benar-benar pagi yang lengang. Tanpa kusadari kurentangkan kedua tanganku bergaya ala Kate Winslet di film Titanic yang romantis itu, gubraks.......
Nggak pake berdiri, bisa-bisa sedetik kemudian aku terjaga di ruang ICU kalau aku nekat melakukan hal itu.
Aku datang paling pagi, seperti biasanya, 'si rajin' ini memang jarang telat.....heuheuheu...kapan lagi bisa muji diri sendiri :-P. Uni Evi belom nampak batang hidungnya, baunya pun belumlah tercium. Teteh masih bingung mau ngumpul ke 'kafe melati' atau berdebar hati menunggu di rumahnya di Cisalopa Indah. Uni Ivat entah kemana. Dihubungi di rumah dan ponselnya, tetap nggak ada jawaban.
Yo wis lah.....aku nyantai aja dulu.....
Bulu...bulu....nggak lama si mungil Oneng muncul.
"Wita, kangeeeen"
"Samaaaa"
Trus si kaos merah pun menghampiri.....opep !!! dengan topi putih untuk menyamarkan penampilannya. "Am I dreaming ??????"
Plook.....pipiku ditabok DD.........ternyata aku masih hidup, hehehe
Menyusul Jeng, Son dan Kemben
Ckk..ckk.....mereka masih saja heboh seperti dulu, cuma sekarang Son agak pendiem, ada apakah gerangan ???
Olahraga mulut sesi pertamapun dimulai, menunya adalah tauge goreng plus teh manis. Khusus untuk Opep Uni Ivat menyajikan udang pedes kesukaannya. Sementara Opep makan hadirin cuma bisa ketawa ketiwi, padahal pasti mereka berjuang mati-matian menahan air liur yang kadang-kadang kurang sopan supaya tidak meluncur keluar tanpa basa basi. Hiks...kok kita nggak ditawarin makan juga siiy.....
Warso Farm, kebun yang sejuk penghasil durian monthong adalah tujuan kami selanjutnya. Berjejal-jejal dalam mobil kijang tanpa ayah, ibu, adik, kakak, om, tante, kakek, nenek pun mobil itu sudah penuh sesak, karena pasukan kami tepat berjumlah sepuluh orang. Kami berangkat dengan gembira walau tanpa menyanyikan lagu sorak sorak bergembira.
Ternyata Warso Farm benar-benar tempat yang menyenangkan !! Durian yang ditanam teratur, diselingin buah-buahan dan sayuran lain, tanaman pagar dikanan kiri jalan, aneka satwa, masih banyak lagi yang bisa melupakan aku sama durian syndrome. Saung yang asri dan karpet berbunga yang bersih pun digelar. Berlatar belakang Gunung Salak, saung yang didirikan diatas kolam dengan pancuran buatan, menambah nyaman pertemuan siang itu.
Beberapa hari sebelumnya Son dan Jeng ulang tahun, kamipun merayakannya dengan kue tart lapis keju buatan teteh yang sudah pasti enak. Pada saat yang sama durian-durian yang kata mereka nikmat itu dibelah. Dagingnya tebal, warnanya kuning mentega, rasanya lezat dan legit, tapi tetap saja tidak mengundang seleraku walau sedikit saja. Mencium baunyapun sudah pusing, akhirnya aku memilih bermain tenis meja melawan pekerja perkebunan.
Puas menyantap durian, sesi photo, jalan-jalanpun dilanjutkan, kali ini menuju tempat tujuan terakhir, yaitu rumah teteh yang pondasi pertamanya didirikan pada tahun 1818. Bising lalu lintas kendaraan menuju Sukabumi tidak mengganggu kenyamanan kami. Derai tawa kami yang tiada henti bahkan mengalahkan suara bising itu.
Hari itu Opep tampak gembira sekali.
NB : Sesuai judul, cerita ini belum selesai. Entah kenapa tiba-tiba kata2 yang sudah ada dikepala raib entah kemana. Biarlah ini tetap menjadi cerita yang belum selesai............karena pada kenyataanya dalam kehidupan kita banyak cerita yang belum selesai, bahkan setelah kita meninggal sekalipun.....
Semoga kita bisa meninggalkan cerita yang baik, kalau kita meninggal nanti....
Neng...oneng, jikalau dirimu membaca blog ini, daku minta photo2 kita yang dikamera opep dunk, pas disaung itu, daku kan nggak sempet mengabadikannya
pliiisssss............
Hari ini indah walau tak cerah. Mendung menggelayuti cakrawala sedari pagi. Tetapi apalah artinya cuaca mendung kalau hati terang benderang, jiwa menghangat karena semangat .......
Hari ini pasti bakal jadi hari yang seru !!!! betapa tidak, janji bertemu beberapa kawan yang sudah lama tak berjumpa, plus ketemu Opep pula. Pastilah bertabur tawa seperti biasanya.
Tak jelas mau kumpul jam berapa, tapi pagi-pagi aku sudah berkemas. Tanpa merasa perlu sarapan akhirnya berangkat tepat jam setengah delapan, setelah sebelumnya memberitahu Uni Evi untuk bertemu disuatu tempat di Bogor.
Meluncur dengan sepeda motor, merasakan kesejukan pagi tanpa polusi dan kemacetan seperti biasanya. Formasipun belum berubah, DD di depan aku membonceng. Benar-benar pagi yang lengang. Tanpa kusadari kurentangkan kedua tanganku bergaya ala Kate Winslet di film Titanic yang romantis itu, gubraks.......
Nggak pake berdiri, bisa-bisa sedetik kemudian aku terjaga di ruang ICU kalau aku nekat melakukan hal itu.
Aku datang paling pagi, seperti biasanya, 'si rajin' ini memang jarang telat.....heuheuheu...kapan lagi bisa muji diri sendiri :-P. Uni Evi belom nampak batang hidungnya, baunya pun belumlah tercium. Teteh masih bingung mau ngumpul ke 'kafe melati' atau berdebar hati menunggu di rumahnya di Cisalopa Indah. Uni Ivat entah kemana. Dihubungi di rumah dan ponselnya, tetap nggak ada jawaban.
Yo wis lah.....aku nyantai aja dulu.....
Bulu...bulu....nggak lama si mungil Oneng muncul.
"Wita, kangeeeen"
"Samaaaa"
Trus si kaos merah pun menghampiri.....opep !!! dengan topi putih untuk menyamarkan penampilannya. "Am I dreaming ??????"
Plook.....pipiku ditabok DD.........ternyata aku masih hidup, hehehe
Menyusul Jeng, Son dan Kemben
Ckk..ckk.....mereka masih saja heboh seperti dulu, cuma sekarang Son agak pendiem, ada apakah gerangan ???
Olahraga mulut sesi pertamapun dimulai, menunya adalah tauge goreng plus teh manis. Khusus untuk Opep Uni Ivat menyajikan udang pedes kesukaannya. Sementara Opep makan hadirin cuma bisa ketawa ketiwi, padahal pasti mereka berjuang mati-matian menahan air liur yang kadang-kadang kurang sopan supaya tidak meluncur keluar tanpa basa basi. Hiks...kok kita nggak ditawarin makan juga siiy.....
Warso Farm, kebun yang sejuk penghasil durian monthong adalah tujuan kami selanjutnya. Berjejal-jejal dalam mobil kijang tanpa ayah, ibu, adik, kakak, om, tante, kakek, nenek pun mobil itu sudah penuh sesak, karena pasukan kami tepat berjumlah sepuluh orang. Kami berangkat dengan gembira walau tanpa menyanyikan lagu sorak sorak bergembira.
Ternyata Warso Farm benar-benar tempat yang menyenangkan !! Durian yang ditanam teratur, diselingin buah-buahan dan sayuran lain, tanaman pagar dikanan kiri jalan, aneka satwa, masih banyak lagi yang bisa melupakan aku sama durian syndrome. Saung yang asri dan karpet berbunga yang bersih pun digelar. Berlatar belakang Gunung Salak, saung yang didirikan diatas kolam dengan pancuran buatan, menambah nyaman pertemuan siang itu.
Beberapa hari sebelumnya Son dan Jeng ulang tahun, kamipun merayakannya dengan kue tart lapis keju buatan teteh yang sudah pasti enak. Pada saat yang sama durian-durian yang kata mereka nikmat itu dibelah. Dagingnya tebal, warnanya kuning mentega, rasanya lezat dan legit, tapi tetap saja tidak mengundang seleraku walau sedikit saja. Mencium baunyapun sudah pusing, akhirnya aku memilih bermain tenis meja melawan pekerja perkebunan.
Puas menyantap durian, sesi photo, jalan-jalanpun dilanjutkan, kali ini menuju tempat tujuan terakhir, yaitu rumah teteh yang pondasi pertamanya didirikan pada tahun 1818. Bising lalu lintas kendaraan menuju Sukabumi tidak mengganggu kenyamanan kami. Derai tawa kami yang tiada henti bahkan mengalahkan suara bising itu.
Hari itu Opep tampak gembira sekali.
NB : Sesuai judul, cerita ini belum selesai. Entah kenapa tiba-tiba kata2 yang sudah ada dikepala raib entah kemana. Biarlah ini tetap menjadi cerita yang belum selesai............karena pada kenyataanya dalam kehidupan kita banyak cerita yang belum selesai, bahkan setelah kita meninggal sekalipun.....
Semoga kita bisa meninggalkan cerita yang baik, kalau kita meninggal nanti....
Neng...oneng, jikalau dirimu membaca blog ini, daku minta photo2 kita yang dikamera opep dunk, pas disaung itu, daku kan nggak sempet mengabadikannya
pliiisssss............



1 Comments:
At 2:54 AM,
Sehelai Daun said…
wita...
aku juga kangen...
hiks...
Post a Comment
<< Home